Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2017

Cinta diorama



Masih ingatkah engkau denganku? Dengan sejuta rayu engkau menghampiriku. Menerjemahkan setiap langkah keras dan gontaiku. Di bawah pohon besar, pohon yang menumbuhkan sejuta kenangan, di depan gedung bercat kuning, kita bercanda penuh dengan keceriaan. Penuh dengan tawa renyah. Bahkan tak mengenal kata pisah dalam setiap desahan nafas. Dunia hanya menjadi milik kita.
Malampun menjadi indah dalam buaian diskusi antar manusia. Perang kusir mulai bertebaran. Semuanya berebut menjadi juara layaknya persaingan kursi DPR negeri dongeng. Aku pun terlibat di dalamnya, terlibat dalam arena pertempuran itu. Engkau tersenyum. Terasa adem  jika harus mengingat senyummu malam itu. Engkau tak beranjak meninggalkan kursimu. Engkau hanya tersenyum menatapku. Hingga pagi kembali hilangkankan perang kusir.
Pagi itu, di depan dereten sepeda motor panjang. Apakah engkau ingat? Atau amnesiamu tak menginginkan pulih kembali. Jika enkau tak bisa mengingatnya, ijinkan aku membuka sedikit ingatanmu. Aku janji, hanya sedikit saja. Di situ kita seharian di jemur dalam teriknya mentari. Air putihku sudah habis sejak pagi untuk bersama kawan-kawan yang lain, dan tak ada lagi yang tersisa kecuali milikmu. Engkau duduk di depanku, memohon agar aku mau meminum air putihmu, agar aku tak kena dehidrasi , itu inginmu. Tahunitu. Ya………… di tahun itu, kita mulai berdiskusi tentang pribadi. Mengenal satu sama lain, mencoba menerima jalan takdir atas nama cinta
Oh iya, itu tidaklah lama. Perjalanan seminggu setelah kita berpisah, kita mulai merasakan keberadaan teman-teman yang lain. Kita mulai melihat bhwa dunia tak hnya berdua. Dan kau ingat apa yang terjdi? Hari-hari yang panjang tak lagi membuatku mengerti dirimu. Engkau selalu aneh. Muncul lalu tenggelam. Dan selalu berulang. Aku seperti kehilangan arah dan tujuan, tapi itu tak lama, hanya sebentar. Dan aku kembali ceria.
bukan, bukan aku jika harus patah hati. Perjalanan penuh dengan duri-duri tajam menghantam jiwaku dan juga jiwamu, namun engkau tetaplah pujangga dengan sejuta rayu dan cinta tanpa pernah lelah. Langkah hatimu mulai kabur. Hatimu mulai terpaku pada gadis itu. Ya….aku bukan gadis yang keturunan darah biru, aku hanya manusia biasa yang tak mau kenal kasta dan tak mau kenal. Saat itu, bagiku itu hanyalah sebuah terapi akan keteguhan cinta kita. Namun sayang…………….engkau benar-benar lari meninggalkanku sendirian tanpa kejelasan.
Bukan aku jika tak bisa tersenyum dalam derasnya duka. Bukan aku jika tak bisa tertawa dalam dunia nyata yang penuh dengan intrik-intrik cinta remaja. Aku masih kokoh berdiri. Aku masih kuat tertawa ngakak. Dan itu ternyata sihir ampuh yng membuat hatimu kembali padaku meski engkau tak lagi berani berucap.
Perjalanan itu memang guru yang luar biasa. Aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Aku hnya manusia biasa yang tak akan sanggup menebak takdir yang maha kuasa. Sesaat engkau berpaling hatiku memang kecut. Dan sedikit membuatku lelah, lemah tak berdaya. Aku mengakuinya untuk itu. Tapi itu hanya berlangsung tidak lebih dari dua hari.
Kisah kita tak akan berhenti begitu saja, bukan? Semuanya pasti akan berakhir sampai ajal menjemput diantara salah satunya. Aku atau engkau lebih dulu. Seperti kisah romeo n Juliet. Atau  selayaknya kisah laila majnun, yang merelakan jiwanya hncur dan melayang dari jasadnya. Begitu pula dengan harapanku.

Senin, 29 September 2014

Totto-Chan sekolahku


Risa namanya. Gadis kecil nan cantik yang berusia delapan lebih sedikit. Ia terpaksa harus duduk di kelas dua lagi, karena dalam kenaikan kelas semester genap kemarin telah diputuskan bahwa ia harus tetap tinggal kelas. Banyak cerita darinya. Dari persoalan yang paling sederhana sampai yang luar biasa. Pola berpikirnya telah mampu meracuni hampir seluruh guru di SD swasta tempat ia mendapatkan secercah harapan untuk melintasi jagad raya ini dengan cahaya ilmu.
Hari demi hari, detik demi detik ia lalui dengan masuk seperti biasa. Terlihat dari yang ia lakukan masih sama dengan hari-hari yang lalu. Pagi ia datang dan siang tepat pukul satu ia beranjak meninggalkan dunia bertembok tinggi ini. Baginya tembok raksasa berlantai dua dan bangunan gazebo di depannya ini adalah gedung megah yang telah mencengkeram kekuasaan dan kebebasan dari dunia yang ia miliki. Laksana ia berada dalam sangkar emas, tak bisa ia terbang melanglang jagad.
Begitu banyak kisahnya yang terekam dalam kaset yang berpitakan dendrit-dendritku.seperti peristiwa dua hari yang lalu, ku dapati ia sedang meraung-raung di kantor. Suara bising yang ia keluarkan telah menyebabkan guru-guru cepat beranjak meninggalkan kantor. Termasuk aku. Salah satu temanku tak kuasa mendengar suara elangnya, hingga ia menyeret Risa ke dalam ruang kepala sekolah. Ruangan dengan ukuran dua meter kali tiga meter itu memang jarang dihuni dan tempatnya ada di sebelah kantor guru. Ia merasakan dirinya dalam posisi yang amat sangat terhina, ia tak mampu lagi mengendalikan amarahnya hingga keluarlah dari mulut mungilnya perkataan yang tak pernah pantas di dengar oleh seorang guru dimanapun ia berada, apalagi di sekolah ini. Ia berusaha sekuat tenaga memproklamirkan guru-guru di tempatku dengan kata-kata kasar dan sesukanya. Saat itu kami malu sekali mendengarnya, bukan tanpa alasan melainkan kami berprofesi sebagai guru dan telah mengikrarkan diri mengatasnamakan moral dalam kehidupan.
Risa panggilannya. Ia hanya anak kecil yang belum tahu kapan ia akan mulai melangkahkan kaki menuju dunia yang luas ini. Ia juga belum tahu kapan ia harus memulai kehidupannya yang lebih baik. Ia hanyalah anak kecil yang membutuhkan bantuan untuk melihat masa depannya dengan cara yang ia senangi.
Sering kali ku dengar di dalam rapat ia diangkat sebagai topik hangat, namun cepat-cepat ia ditinggalkan begitu saja. Ia ibarat umpan untuk melangkahkan kaki-kaki kami menuju yang lain. Dengan berbagai argument, beberapa diantara kami berusaha untuk pasrah pada takdir tanpa usaha untuk memperbaikinya. Aneh memang, tapi inilah kenyataan. Kami adalah segerombol pengecut yang mengatasnamakan guru, itulah sebutan bagi kami. Tak perlu canggung mengatakan kepada siapapun tentang nama ini, karena itulah fakta.
Berkali-kali ku dengar ia membuat ulah di sekolah. Ia tak pernah memperdulikan akibat dari tindakannya. Ia tinggalkan begitu saja guru yang mengajarnya dengan segudang permasalahan yang ia lakukan. Ia berbuat jahil kepada teman-temannya, hingga membuat temannya jengkel dan melakukan aksi pembalasan. Tak dapat dihindari lagi pertengkaran terjadi antara mereka. Dan kami mencoba melakukan penyelesaian atas apa yang menimpa mereka. Jika kemenangan berada dipihaknya , senyum terindah ia lontarkan, ia berikan kepada siapapun yang berada di sebelahnya dengan kemenangannya. Namun jika kekalahan yang ia terima, maka terdengarlah suara nyaring mengumandangkan tangisnya, memecah gendang telinga bagi yang mendengarnya.
Pernah suatu hari aku berpikir bahwa ia adalah salah satu korban ketidak adilan Allah terhadap hamba-Nya. Namun ketika aku melihat dari sisi lain yakni menatapnya lebih dekat, ternyata Allah telah menunjukkan keadilan –Nya, dan benar-benar maha adil dengan cara keadilan-Nya.
Aku benar-benar tertarik dengan hidupnya. Dulu ketika ia masih baru di kelas dua, kira- kira satu tahun yang lalu, salah satu temanku mengatakan kepadanya untuk lebih giat lagi belajar, dengan polosnya ia menjawab, “aku ingin jadi artis kok harus baca dan tulis”. Saat itu temanku langsung mengeluarkan jurusnya untuk berkhotbah di depannya. Namun ia tetap Risa yang tak bisa memahami bahasa sang orator ulung. Risa adalah ciptaan dari sang Maha Karya yang hanya mampu menganalisa hidup dengan caranya sendiri.
Setiap hari kamis aku datang lebih awal dari biasanya, karena jatah piket yang aku emban. Sebagai perwujudan rasa tanggung jawabku sekaligus takdir untukku menikmati indahnya pagi. Ku amati setiap siswa yang datang, baik sendiri maupun diantar orang tua, ataupun keluarganya yang lain. Tak lupa ku analisa sang pengantar Risa, siswi pengganti Totto-Chan di sekolahku. Subhanallah, ternyata kakak laki-lakinya yang biasa mengantarnya juga tidak seratus persen normal, ada tanda-tanda yang jelas terlihat dari raut muka serta tingkah lakunya yang telah mampu menunjukkan padaku siapa dia sebenarnya. Apalagi setelah aku mendapatkan keakuratan dari salah satu temanku yang tak jauh tempat tinggalnya dengan keluarga Risa.
Risa namanya. Gadis bungsu dari keluarga yang terbilang kaya di daerahnya. Namun, malang baginya. Jarak yang terlalu jauh antara dirinya dengan saudara yang lainnya telah mempengaruhi hidupnya. Barang yang serba mewahpun juga turut andil dalam membentuk pola pikirnya., orang tuanya yang telah beranjak tua dengan ihklas membiarkan perkembangan yang tidak alami mempengaruhi kehidupan anaknya tercinta.
Pernah suatu hari, saking penasarannya aku terhadap kehidupannya. Aku melakukan investigasi terhadap temanku. Berbagai pertanyaan ku lontarkan. Aku seperti detektif conan yang siap berselancar mengarungi misteri hidup yang terjadi. Bahkan sampai ku tanyakan perkembangan perekonomian keluarganya. Sungguh di luar dugaanku sebagai perwakilan orang tua.
“Maaf ya, bukannya aku suudhon, tapi ini fakta, keluarganya itu setiap hari mendapatkan suntikan dana dari pihak lain. Sebenarnya sih, keluarganya tu mampu, tapi mereka berpikir tu sumbangan, maka ya di terima aja.” Ujar temanku saat itu. Terlihat dari wajahnya yang tak mampu menciptakan ekspresi lagi, karena menurutnya sudah banyak orang yang memberitahukan pada keluarga Risa untuk tidak menerima dana pengganti agama.entahlah berita itu benar atau salah, aku juga tak tahu.
“Apa iya, hal-hal semacam itu mempengaruhi kehidupannya, kecerdasannya, bahkan hatinya?”Tanya temanku yang lain.
“Iya, Insya Allah mempengaruhi semua yang terjadi dalam kehidupan, bukankah itu telah menjadi daging yang membalut tulang-tulang yang ada pada tubuh, maka secara otomatis semua yang terjadi saling mempengaruhi.” Balas temanku.
Otakku berselancar membuka lembaran-lembaran dendrit yang bertumpuk-tumpuk mencari seberkas cerita lima tahun yang lalu saat aku bekerja menjadi terapis. Aku ingat salah satu yang ku terapi adalah anak dengan memiliki kepribadian ganda. Ketika diskusi dan konsultasi dengan seseorang yang lebih paham ilmu kedokteran sekaligus pemahaman agamanya jauh lebih dari kami, memang benar semua yang masuk kedalam tubuh, halal atau tidak telah meramu semua kehidupan manusia.
Haruskah aku bersyukur ketika sang penguasa sekolah tidak menaruh namaku dalam daftar pengajar kelas Risa? Sungguh ini ibarat buah simalakama. Ia tak pernah tahu tentang dosa. Bagaimanapun juga ia tetap anak yang haus akan berbagai cahaya. Sering kali ketika aku melintasi kelasnya, ia hanya terduduk diam tak bergeming, atau ia berjalan-jalan di ruangan, tanpa ada timbal balik dari seorang dewa yang sedang duduk termenung di depan dua puluh siswa. Risa tetaplah Risa yang belum faham tentang kehidupan, bahkan untuk memahami hidupnya sendiri ia belum mampu.
Ada rasa bersalah tiap kali aku melihatnya. Ia laksana malaikat yang selalu menguntitku untuk mencatat semua yang telah ku lakukan. Karena semua penghuni istana sangkar emas ini telah lama menghilangkan daftar nama Risa dalam sanubarinya. Aku tidak bohong, semua itu ada buktinya. Aku tidak mau di anggap penghianat alam bawah sadarku yang mengatas namakan guru, orang yang harus digugu lan ditiru.
Kemarin saat rapat laporan hasil akademik dan permasalahan-permasalahan yang ada di dalam dapur masing-masing kelas. Ada berbagai hal yang dilaporkan. Namun, ketika sang eksekutor kelas dua mengungkapkan permasalahnnya, beliau mengatakan “Semua ini tadi di luar Risa pak, karena semua pasti tahu bagaimana tentang Risa. Intinya daripada saya hanya mengurusi satu anak dan itu Risa, lebih baik saya mengurusi yang lain, yang lebih banyak, lebih pinter, dan pastinya nggak bikin ulah yang aneh-aneh. Nggak nangisan dan lain-lain. Pernah ketika saya mengajar, ada beberapa anak yang lain itu protes tentang Risa, trus aku jawab kalau kalian mau seperti mbak risa ya silahkan melakukan sepertinya, kataku.”
Aneh ya, semua itu apakah masih kurang untuk membuktikan tentang siapa Risa. Ada senyum yang amat getir, yang menusuk-nusuk relung jiwaku. Aku tak pernah mampu melakukan pembelaan padanya hanya karena aku tak ada di daftar tim eksekutor kelas. Aku hanyalah seuntai cabe merah diantara cabe rawit. Semua setuju dan mengiyakan ada dan tiadanya Risa tak pernah berpengaruh pada siklus kehidupan di dalam sangkar emas ini. Sebegitu hinakah Risa dimata para eksekutor itu? Allah yang mampu menilai semuanya, dan akan membalas dengan keadilan-Nya
Mungkin Risa adalah korban dari kebodohan kami. Aku benar-benar khawatir jika hal tersebut hadir sebagai pemicu atas yang terjadi pada Risa. Aku sendiri telah melakukan berbagai pendekatan padanya, namun, berkali-kali pula aku harus menahan kekecewaan karena hasilnya belum maksimal. Hingga aku tersadar dari tidur panjang ini ketika ku temukan sebuah buku lusuh di perpustakaan desa yang letaknya berdampingan dengan kantorku. Ku buka lembaran demi lembaran, ku nikmati kata demi kata yang terangkai dengan indah, lalu ku masukkan ke dalam otakku, hingga berkembanglah dendritku menuju keangkasa pemahaman.
Mungkin tingkahnya selama ini adalah perwujudan dari aksi protesnya, karena ia bukanlah mahasiswa yang bisa melakukan demonstrasi ala mereka. Ia hanyalah anak kecil yang mampu melakukan aksi demontrasi dengan caranya. Ia mogok membaca, mogok menulis, mencubit teman, menjegal teman, menuduh teman dan lain-lain adalah serentetan aksinya agar kami memahami dirinya. Ia terpuruk pada dunia yang tak ia mengerti.
Ia laksana musafir padang pasir yang ingin menemukan oase. Ia berselancar di daerah kutub namun malang baginya, ia terjerumus ke dalam lautan ganas yang penuh dengan marabahaya. Ia laksana pecinta alam yang sedang mencoba mendaki untuk menahklukkan gunung Jaya Wijaya, namun di luar dugaan ia tergelincir ke dalam jurang terjal nan curam. Siapa yang akan bertanggung jawab atas semua ini? Siapa yang akan menuntunnya menunjukkan oase padang pasir? Siapa yang akan menjadi penolongnya di tengah lautan? Dan siapa pula yang akan menyelimuti serta menghindarkannya dari dinginnya salju Jaya Wijaya serta amukan binatang buas di tengah malam gelap gulita?
Aku berselancar mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Pusing. Ya tepatnya kepalaku mengamuk memuntahkan kekesalannya, hingga amat terasa sakit. Aku tak putus asa, ku mulai lagi berselancar ke dunia nyata dan maya. Namun, lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan, keangkuhan para eksekutor telah menciptakan dunianya sendiri, merasa sok jagoan, merasa benar sendiri serta keangkuhannya telah menciptakan dua nurani di dalam jiwanya yang saling berperang, hingga tak mampu membuat keputusan akhir.
Risa, begitulah orang menyebutnya. Ia tertinggal jauh dengan teman-temannya secara akademik dan kematangan emosional. Ia dianggap pengacau sekolah. Ia tak diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa sebenarnya dia. Ia menutupi semua kelemahannya dengan sikapnya. Ia sengaja melakukan itu semua dengan harapan akan diakui keberadaannya. Namun, semua yang melihat dan mendengar juga dengan sengaja menutup mata dan telinga saat melintasinya. Kehidupannya sungguh bak buah simalakama. Kehidupannya seperti tak pernah nyata.
Mungkin benar dugaanku, Risa adalah korban kebodohan kami dan keluarganya serta orang-orang yang berada di sebelahnya. Orang-orang yang telah menganggapnya tidak ada. Ia adalah satu diantara Totto-Chan yang hadir di hadapanku, bahkan ribuan yang telah hadir di muka bumi ini. Ia adalah mahkluk Allah yang memiliki kekhasan tersendiri. Mungkin selama ini kami telah menghilangkan namanya dari daftar hadir yang terukir di hati, namun kini ia telah ku ukir dengan tinta emas dan ku letakkan di sebelah namaku sendiri tanpa malu dan ragu, bersama Totto-Chan lainnya. Aku sadar ia tak sendiri, karena aku dulu juga sepertinya. Dan aku telah menjadi korban ketidakmengertian para eksekutorku dulu. Kini aku tak kan membiarkan seorangpun mengeksekusi Totto-Chan -Totto-Chan baru dimanapun berada. Aku tak kan biarkan hatinya terkapar tanpa kekuatan. Aku akan selalu hadir dalam kehidupan berikutnya tanpa batas, di dunia nyata maupun maya. Bukankah Allah menciptakan permasalahan yang mampu diselesaikan oleh hamba-Nya. Andaikan kami tak mampu, bukankah Allah telah berjanji tidak akan melepaskan kami begitu saja.



Jumat, 05 September 2014

Karena Aku Ada



Karena Aku Ada

Semua yang baru lahir tak mampu ditebak akan menjadi apa. Kecuali, Pak Tarno, si pesulap yang selalu  meminta pertolongan penonton untuk bertepuk tangan dengan irama “Prok...prok-prok-prok jadi apa?” baru akan terjawab. Dan bisa ku pastikan kalian semua mampu mengingat dengan baik tentang pak Tarno. Iya kan? Tapi satu hal yang harus kalian ingat, itu tidak berlaku untuk mendeteksi nasib siapapun, aku, kamu dan termasuk presiden sekalipun.
Semua yang terlahir itu bukanlah siapa-siapa. Itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan semua manusia di muka bumi ini. Tak perlu khawatir, panik, bingung tentang masa depan. Semuanya sudah ada yang mencipta. Semuanya tahu bahwa ketika lahir kita hanya memiliki satu modal, yakni keberanian untuk menatap dunia yang penuh dengan intrik-intrik yang kadang tak bisa dimengerti dan dipahami. Bahkan sangat sulit. Mencerna dunia yang penuh dengan suka dan tidak suka. Tiba-tiba suka dan tiba-tiba tidak suka.
Sama dengannya. Persis. Ia terlahir juga bukan siapa-siapa atau dari keluarga siapa-siapa. Ia hanya dari keluarga biasa dan ia hanya seorang anak perempuan yang biasa pula. Tak ada tanda-tanda ia istimewa. Semakin besarpun tetap tak ada tanda-tanda bahwa ia patut untuk dipertimbangkan, di lihat, bahkan dirasakan kehadirannya. Tidak sama sekali. Dengan tubuhnya yang tambun, pipinya yang tembem, mata bulatnya menjadikan pelengkap bahwa ia tak seharusnya terlahir di muka bumi ini. Ingat! Semuanya serba biasa saja. 
Ia hanya menjadi manusia pelengkap dalam setiap sisi kehidupan di sini. Di sekolah yang megah ini, ia hanya dibutuhkan karena ia mampu membayar biaya pendidikan yang lumayan mahal bagi kalangan menengah ke bawah. Ia hanya menjadikan dirinya pelengkap pelampiasan kemarahan bagi yang tak bersyukur, karena ia mampu menahan rasa sakit hati saat menjadi bahan olokan bagi teman-temannya.
“Say no to Gendut!” teriak gadis cantik nan semampai disusul teriakan kawan-kawannya. Suara riuh mengembang ke penjuru sekolah megah itu. Persis demonstrasi penurunan pejabat.
“Gendut?? Trus aku harus bilang Wow gitu?”
“Dasar gadis pemimpi! Gendut! Huh! Nggak level”
Atau
“Tahu nggak? Setiap aku menatapnya, aku selalu ingat pilem Bagong...ha....ha...ha..!”
Bahkan itu belum seberapa.
“Setiap aku mendengar suaranya, aku seperti sedang terkena letusan gunung Merapi. Jadi saranku kalo lagi deket dengannya kita musti siap-siap terkena longsoran juga”
Dan kau tahu? Setiap sehabis berkata, tawa mereka berderai. Terurai disepanjang gendang telinga yang sempat mendengar, dan itu berarti menambah kasus di negeri tercinta ini tentang Bullying. Terkadang hal itu membuat nyalinya menciut. Mengerut sampai ke titik terendah jiwanya. Laksana benang kusut yang sulit diuraikan. Kalau itu yang terjadi, ia hanya mampu menundukkan wajahnya ke lantai kelas. Ia tumpahkan semua keluh kesahnya pada ubin kelasnya. Karena ia tak mampu menguraikan hatinya lewat nada-nada ataupun tulisan. Dan lengkaplah rasa deritanya. Anehnya, itu hanya berlangsung dalam hitungan jam. sejam, dua jam, dan tiga jam berikutnya ia kembali tersenyum ramah.
Terkadang ia berharap sebuah keajaiban datang menghampirinya. Menyapanya. Mengerti dan memahami semua keadaannya dan membalik semua yang terjadi di depannya seratus delapan puluh derajat. Dan itulah ia menjadi gadis pemimpi. Namun, setiap kali ia bangun dari tidur malamnya, semuanya masih tetap sama. Bagong masih menjadi sandaran nama baginya. Dan semua itu masih menjadi mimpi panjang baginya.
***
Matahari masih tetap bersinar meski waktu berlalu dengan cepat. Pergantian detik ke detik, menit ke menit, hingga musim ke musim menjadi cerita mimpi untuk perubahannya. Keinginannya untuk dianggap ada merasuk ke dalam dirinya. Merangsek semua keinginan yang lainnya. Perjalanan yang ia tempuh sudah cukup menjadi bekal yang hebat untuk masa depannya. Langkahnya kian mantap. Sudut pandangnya berubah. Ia menyadari jika dirinya berbeda. Ia wujudkan keberaniannya menampakkan wajahnya melihat, menatap dunia dengan penuh gairah. Ia mulai berani ikut mewarnai dunianya sendiri. Berawal dari mimpilah semua menjadi ada, hingga suatu hari............
“Wah Bagong sekarang berbeda lho?”
“Oh ya? Bagong!” matanya terbelalak tak percaya.
“Iya. Gadis pemimpi itu.” balasnya.
 “Beda gimana? Sekarang seperti apa? Badannya sudah kendur ya? Atau malah seperti artis sekelas Anisa Chibi?” kata gadis berambut pirang.
“Kalau bener seperti itu, aku akan bilang Wow sambil koprol dari depan kelas sampai pintu gerbang sekolah ini. Gimana? Lumayan keren kan janjiku?”
“Gila ya lho pada? Mana mungkin si Bagong berubah kayak artis.” jawab si pembawa berita, “Maksudku ya, dia berani menolak perbedaan. Ia  mulai nggak terima dengan nama Bagong yang melekat di dirinya! Dan kau tahu?” nafasnya tersenggal-senggal menahan emosinya yang tak tertahankan, “Dunia sudah mulai mengenal dia ketimbang kita!!!”
“Wow...keren. ini akan menjadi berita paling heboh disini!” gadis yang sedari tadi diam saja kini ikut pula menimpali.
Lagi-lagi ia menjadi bahan pergunjingan di seluruh sekolah. Bahkan sampai di kamar mandi. Pergunjingan seru itu tak hanya melibatkan siswa. Seluruh penghuni sekolah ikut terlibat di dalamnya. Guru, Osis, murid biasa hingga Pak Maman si tukang kebun sekolah tak mau ketinggalan. Kau pasti akan terkejut, menganga melihat keajaiban jika kau terlibat langsung di dalam sekolah itu. Pasalnya hal yang tak mungkin dilakukan siapapun tiba-tiba muncul di media lokal bahwa ia telah melakukannya. Bahwa ia mampu menjadikan dirinya bintang bagi kaum marginal. Memang sih serba mungkin, tidak ada yang tidak mungkin, tapi untuk ukuran dia semuanya takkan percaya bahwa ia pelakunya.
***
Pagi itu tak ada mendung yang berkelebat di langit. Itu pertanda hari yang cerah secerah hatinya. Matahari benar-benar lagi berbahagia sebahagia hatinya. Suasana hari itu benar-benar anugerah yang diperuntukkan baginya. Semuanya menghadiahi senyuman paling indah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap ia berjalan, semua menyapanya dengan sangat ramah. Setiap kali ia membuat sedikit kesalahan tak lagi keluar kata-kata kotor yang menemani. Semuanya tak lagi abu-abu. Semuanya berubah. Hanya ada hitam dan putih saja, persis seperti acara televisi swasta.
Meski begitu ia tak berbangga hati. Meski semua berubah, ia masih tetap sama. Penampilannya tak ada yang berubah. Tubuhnya tetap tambun. Hidungnya masih tetap mancung dan pipinya masih tetep tembem setembem kue apem. Rambutnya tetep kucir satu. Hanya senyumnya yang berubah. Senyum pada dunianya semakin kentara alami, tak basa-basi. Ia hanya menunjukkan dirinya yang asli. Bertaring, tapi tetap lembut.
Kalau engkau terlibat langsung di dalamnya, engkau pasti ikut senang saat melihatnya menjadi dirinya sendiri. Engkau pasti tak kan berhenti memujinya meski gempa melanda negeri. Dan yang pasti engkau takkan lagi mau menghentikan nafasmu meski sejenak, karena engkau inginkan hidup terus untuk melihatnya nanti.
Engkau sebenarnya penasarankan dengan apa yang ia lakukan hingga membuat semuanya berubah. Membuat senyum anak-anak negeri yang tak dianggap. Membuat semuanya kembali ceria. Sebenarnya dia hanya melakukan sedikit perubahan. Ya, tepatnya hanya sedikit sekali. Tapi itu sudah cukup mewakili kaum termarginal seperti kami ini.
Sedikit itulah janjinya untuk merubah semuanya. Sedikit itulah yang menjadikan dia mendapatkan penghargaan dari orang nomer satu di negeri ini. Dan sedikit itulah janjinya pada dirinya sendiri. Ia hanya membuat poster, dan beberapa tulisan saja. Eit....jangan salah meski hanya itu, ia mampu merubah segalanya menjadi seperti sekarang ini.  Posternya juga Cuma poster sederhana, tulisannya juga Cuma “AKU ADA KARENA ENGKAU ADA” dan tulisannya yang dimuat judulnya juga biasa yaitu “KITA ADA KARENA BERBEDA”.
Satu lagi engkau pasti juga penasarankan siapa sebenarnya dia itu? Sebenarnya Dia itu Aku. Bintang Lazuardy.

Blitar, 061213
09.25


Senin, 14 April 2014

Karena aku laki-laki





“Karena aku laki-laki.” jawab pak karto sewaktu ditanya anak semata wayangnya.
Osy kecil telah belajar tentang perubahan. Ia mengamati pak Karto dari kakinya hingga ujung rambutnya yang mulai beruban. Osy kecil mulai mengenal kehidupan. Ia mencoba mencari tahu tentang arti keluarga.
Selasa yang mendebarkan bagi Osy. Tak seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini osy akan  melaksanakan ujian akhir sekolah berstandar nasional. Semalam ia tak nyenyak tidurnya, ia punya dua harapan dalam ujian mata pelajaran IPA kali ini. Harapan pertama nilai hasil ujian memuaskan, dan yang kedua adalah akan ada soal tentang perubahan pada laki-laki yang akan ia jawab dengan jawaban pemberian ayahnya yaitu karena aku laki-laki.
Bel telah dibunyikan pertanda ujian akan dimulai. Osy benar-benar menyiapkan jawaban itu. Ia percaya jawaban itulah yang tepat, namun Osy benar-benar kecewa karena soal yang diinginkan tak pernah muncul.
****************
Osy masih saja mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada ayahnya. Mulai dari satu kerutan hingga kerutan itu tak terhitung. Osy selalu penasaran dengan apa yang dilihat di wajah ayahnya. Hingga ia beranikan bertanya berulang kali tentang kerutan yang semakin bertambah. Dan anehnya, jawaban itu selalu sama yaitu karena aku laki-laki.
Osy kecil telah tumbuh menjadi seorang mahasiswi. Berbagai macam buku ia lahap. Semua itu karena ia masih tetap penasaran tentang perubahan kerutan diwajah ayahnya. Kerutan yang selalu bertambah, dan ia tak bisa mencegahnya.
Suatu hari, bu karto baru saja selesai memasak di dapur bersama Osy. Rasa penasaran tentang kerutan kembali mengusik pikirannya. Apakah ibu mau untuk menjawab pertanyaan yang sama. Bukankah dulu aku pernah bertanya tentang itu, dan kau tahu? Ibu hanya menjawab itu sudah takdirnya. Sayangnya Osy tidak puas dengan jawaban itu.
”bu, bolehkah aku bertanya?” tanya Osy penuh keraguan.
”Hem...........”jawan bu  karto.
”bu, kenapa ya badan ayah kian berkerut, dan badannya kian membungkuk?” tanya Osy.
”karena ayahmu itu laki-laki yang bertanggung jawab. Kamu itu lho dari dulu kok yo tidak berubah.”
”maksudnya bu?”
”laki-laki diciptakan Tuhan sebagai pemimpin keluarga dan sebagai tiang penyangga bangunan keluarga, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untk memimpin dan menyangga supaya tidak roboh. Dia diciptakan dengan bahu yang kekar dn berotot supaya ia mampu melindungi keluarganya dri segala marabahaya. Dia diberi kemauan agar berusaha sekuat tenaga untuk memberikan nafkah keluarganya dengan harta yang halal lagi bersih. Dia diberikan keperkasaan dan mental baja supaya dia membuat dirinya pantang menyerah demi keluarganya. Diberikan didalam hidupnya penuh dengan keletihan dan kepayahan. Dan yang harus kamu ingat, diberikan Tuhan kerutan diwajah ayahmu, karena itu sebagai bukti bahwa ayahmu berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari cara supaya keluarga kita hidup bahagia apapun yang terjadi. Itulah ayahmu, laki-laki yang bertanggung jawab penuh terhadap keluarga,”
Osy terdiam. Tak bisa ia mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya. Ia berlari menuju ayahnya yang sedang sujud kepada Tuhannya. Air mata menetes tak terkendali. Ayahnya baru sja mengucapkan salam. Osy langsung memeluk ayahnya, beribu ucapan terima kasih meluncur dari bibirnya. Penasarannya kini telah terjawab jelas. benar kata ayah, karena ayah laki-laki.
Duwet, 22 januari 2012
Pukul 21.39

Stasiun Lempuyangan

Jika Blitar terbuat dari tetesan-tetesan darah para pejuang, maka Jogja tercipta dari sejuta kerinduan. Kerinduan pada keramahan...